When I Was Still A Child

Long time no blogging. A lot of things happened, even I don’t really remember every detail I’ve been passing through life. And now I’m just daydreaming and kinda miss the feeling of being child again.

If only I can return to my childhood self, the only thing that I want is the ability that I have as a child “Just to Lost in the Game and Forget About Everything Else“. I’d really like to enjoy doing something with all of my heart.

Being honest, joy and fun.

I don’t want to turn back time, I’m so greatful and happy to be me as I’m now. I just want to have the same feelings as I had back then, when I was still a child.

Advertisements

New Year’s Eve!

Masih dalam suasana perayaan tahun baru. Tapi perasaan nggak ada bedanya antara tahun ini dan tahun kemarin, saya sih ngerasanya sama saja, soalnya menurut saya, tahun baru itu… just another year. Hehe.

Apakah anda termasuk orang yang merayakannya dipusat kota, pesta bakar-bakar dirumah teman atau hanya tidur semalaman lalu dengan bangga update status “gue tidur selama setahun”. Hehehe nggak apa-apa yang penting kegiatannya positif. Tidur positif..? Lha kalau besok emang harus bangun pagi kenapa harus begadang semalaman, positif dong. Bagaimana dengan keluar ke pusat kota? Jalan-jalan sama keluarga boleh juga dong atau sekedar kumpul sama teman-teman, tahun baru kan hanya sebuah momen, yang terpenting gimana memaknainya.

Namun ada juga yang beranggapan bahwa pesta peranyaan tahun baru di ibu kota kemarin hanya buang-buang uang dan lebih baik disumbangkan untuk pendidikan. Tidak salah, tapi saya punya pemikiran saya sendiri.

Menurut saya perayaan tahun baru yang sangat mewah kemarin tidak hanya soal uang. Begini, kemarin saya baca koran tentang perayaan tahun baru, angka kecelakaan dan korban petasan menurun drastis, hal ini (menurut saya) sangat dipengaruhi oleh adanya event-event tersebut. Soal kecelakaan, dengan adanya event yang terpusat dititik-titik tertentu, mencegah orang untuk melakukan balap liar, konvoi dijalanan dan tentunya pengawasannya juga lebih mudah. Saya dulu anak geng juga, pernah hidup dijalanan jadi saya cukup tau anak-anak selalu mencari kegiatan untuk membahagiakan diri mereka sendiri, seringnya sih balap liar, konvoi sambil mabuk-mabukan, berapa banyak yang mati karena tabrakan? Tapi ketika ada event dengan band-band yang mereka sukai, mereka lebih memilih hadir di event, bukankah ini lebih positif?

Dan untuk pesta kembang api yang terkesan “membakar uang” ini mengurangi jumlah orang yang ingin menyalakan kembang api sendiri-sendiri. Kan sudah ada kembang api, yang lebih keren malah, buat apa nyalain sendiri? Lama kelamaan kebiasaan ini akan hilang juga. Mungkin idealnya memang jangan melakukan sesuatu yang menurut kita “nggak penting” tapi kita tidak bisa langsung kan menyuruh orang untuk berhenti merokok misalnya, anda bisa seketika itu juga..? Menurut saya untuk mengajarkan orang sesuatu ya dengan menghilangkan kebiasaan itu terlebih dahulu, menggantinya dengan kegiatan lain, setahap demi setahap.

Tapi ada juga yang beranggapan jika saja PERDA ditegakkan bukankah tidak perlu acara seperti itu? Hm, iya  kalau ditegakkan, masalah peraturan/hukum itu sudah kompleks, sama seperti korupsi, kalau hukum ditegakkan nggak perlu ada KPK juga.

Menurut saya kebiasaan masyarakat yang saya sebutkan sebelumnya sudah menjadi budaya. Dan ngomong-ngomong soal budaya saya punya sedikit cerita. Pernah dulu di Jogja, di jalan malioboro jaman dulu merupakan tempat yang sangat jorok, banyak orang yang kecing sembarangan disitu, peraturan sudah ada bahkan sampai yang berani kecing disitu akan dipenjara, tapi tetap saja ada yang kecing disitu. Nah Sri Sultan turun tangan dan memerintahkan di setiap sudut dijalan tersebut dikasih kemenyan (semacam dupa yang dinyalakan). Setelah itu sedikit demi sedikit berkurang dan tidak ada lagi orang yang berani kencing disitu, orang lebih takut sama hal mistis (hal yang dianggap keramat didaerah tersebut) daripada polisi/hukum. Mungkin cara yang diterapkan pemerintah sekarang merupakan pendekatan terhadap budaya. Bukan melawannya secara frontal tapi mendekatinya untuk disadarkan.

Kapan mulai gambar lagi?

Pertanyaan yang dilontarkan temen gw, sahabat tepatnya, Deni, beberapa hari yang lalu. Dia mengatakan kalo gw udah lama gak gambar, lebih tepatnya dia menanyakan komik gw. Dulu memang gw pernah bilang kalo ingin membuat sebuah komik dan dia sangat antusias menunggunya tapi belum satupun kertas yang gw corat-coret. Saat ini gw malah (sok) sibuk belajar gitar dan menulis blog ini. Hehe. Nggak nggak, sebenernya ada hal-hal yang sedang mengganggu pikiran makanya gw gak konsen buat gambar. Tapi bukan berarti gw gak ingin menggambar, justru sangat ingin. Melampiaskan emosi dikertas itu sangat menyenangkan. Soal kapan? Secepatnya kok. Hehehe.

Em, sedikit bernostalgia dengan gambar yang gw buat bertahun-tahun yang lalu (kok kesannya udah tua ya, bertahun-tahun?), berikut adalah beberapa karya yang pernah gw buat.

Naruto Hinata        Sasuke

Sakura   Hinata

Gambar waktu kelas 3 SMP, pas seneng-senengnya nonton naruto. Sebenernya udah dari SD sih senengnya cuman waktu itu gw gak punya temen yang menyukai hal yang sama, nah pas SMP baru deh nemu temen-temen yang bener-bener maniak anime. Hehe. Gambarnya masih kasar soalnya iseng aja bikinnya dibuku tulis, ada 2 buku tulis yang gw pakai buat gambar, yang satu ilang ditempat les jadi tinggal ini yang tersisa, huft. Lanjut ke gambar selanjutnya.

Saya Kisaragi (Blood-C)

Kalo yang ini gambarnya waktu awal kuliah, pakai mouse langsung dikomputer dengan software Manga Studio EX 4. Gak segampang gambar dikertas sumpah, ya mungkin karena belom terbiasa aja kali ya. Itu merupakan char dari anime Blood-C, belom pernah liat animenya sih cuman pengen aja gambar, hehe. Waktu itu sebenernya ada temen yang curhat pengen gambar char itu karena gw penasaran, eh ikut gambar juga.

tria

Nah kalo yang ini pas iseng-iseng pengen gambar realis. Masih semester awal kuliah juga, waktu itu kakak gw beli buku tentang gambar yang berjudul Panduan Menggambar Manusia Menggunakan Media Pensil karya Irfan Abdul Rohman, gw tertarik buat baca, habis baca jadi tertarik gambar realis dan ini adalah gambar pertama gw, modelnya seorang temen bernama, Tria Permata. Awalnya gak minta ijin sama orangnya kalo mau gambar, selesai gambar gw beraniin diri buat tag ke fb dia eh dia bilang suka, gw ikut seneng. Hehe.

lena

Kalo yang ini gambar realis kedua, modelnya Lena, temen chat di mig33 waktu itu, gak tau kenapa pengen aja gambar. Iseng. Hehe. Sebenernya ada satu lagi gambar realis yang gw buat, gambar sahabat gw sejak SMP, Nana, cuman belom sempet scan, udah gw kasih ke orangnya. Cewek semua ya, hehehe emang, gw suka aja gambar cewek. :p

Eh bentar, mungkin ada yang nanyain (kalo ada, gw sih pesimis ada), waktu SMA kok gak ada, emang gak gambar? Waktu SMA gambar kok tapi lebih ke abstrak. Ada juga sebuah lukisan kaca (tuntutan tugas sekolah sih sebenernya) cuman belom sempet gw foto. Trus waktu SMA gw juga lebih sibuk bikin puisi (*ceileh puisi, uhuk-uhuk, huek), haha puisinya agak alay gitu gw aja sekarang suka geli sendiri kalo baca puisi gw dulu. Ntar deh gw post ditulisan selanjutnya (kalo sempet) beserta komentar gw tentang puisi tersebut.

Itu aja sih beberapa karya gw. Setelah gw nulis sekian banyaknya sampai lo bosen bacanya (gw tau kok perasaan lo, hm, hm..), gw jadi mikir kalo ternyata gak ada gunanya deh kayaknya kalo terus-terusan “membanggakan” karya lama sementara sekarang sudah tidak melakukannya lagi. Jadi gw pikir… gw akan kembali. gw akan jadi seniman. Suatu saat nanti. Pasti.

Bakat

Banyak yang mengatakan tiap orang lahir dengan bakatnya sendiri-sendiri. Sesuatu yang (dianggap) karunia Tuhan kepada makhluknya sejak lahir. Mungkin iya tapi entahlah saya tidak begitu percaya sama yang namanya bakat, yang saya percayai adalah setiap orang punya proses untuk menyukai sesuatu, dari situ timbul lah passion. Passion inilah yang membuat seseorang berusaha untuk mendapatkan skill dari apa yang ia sukai. Jika masih ada orang yang berpikiran bahwa semua itu telah ditakdirkan, saya akan meng-iya-kan karena saya percaya takdir itu bisa diubah.

Saya beranggapan akan sangat tidak adil ketika ada seseorang yang bilang bahwa anda tidak berbakat dibidang tertentu dan seharusnya memulai sesuatu yang sesuai dengan bakat anda. Ketika anda benar-benar menyukainya. Bakat atau bukan, takdir atau bukan, hanya Tuhan yang tahu. Jadi kenapa seolah-olah manusia seperti Tuhan?

Apapun yang anda sukai, apapun yang menjadi passion anda.

Lakukan saja!

Gak ada yang tau kok nantinya bakal jadi kayak gimana. Seperti kata-kata yang pernah dikatakan seorang teman kepada saya.

“Kita tuh bukan Tuhan yang tahu segalanya!”

Masa Lalu

“Masa lalumu adalah milikmu, sekarang dan masa depan adalah milik kita berdua”

Saya setuju dengan kata-kata diatas asalkan orang yang mengatakannya tidak mempermasalahkan masa sekarang dari orang yang ia maksud. Tapi pada kenyataannya tidak selalu begitu. Orang menjadi tidak begitu peduli dengan masa lalu seseorang dan terus menanyakan “kenapa” sebagai bentuk protes di masa sekarang. Men, karakter seseorang itu gak terbentuk begitu saja tapi sangat berhubungan dengan apa yang telah ia lalui.

Tapi bagaimana jika memang itu sesuatu yang salah? Benar atau salah itu relatif. Akan lebih bijak jika kita mau mengenal seseorang lebih jauh. Tentang bagaimana masa lalunya. Bagaimana ia menjadi seperti selayaknya ia sekarang. Dengan begitu kita dapat mengambil sikap yang baik. KLISE! Memang. Tapi ada benarnya juga. Sikap yang baik bisa jadi dapat mengubah orang tersebut menjadi apa yang kita harapkan atau kita hanya sekedar tahu dan mau mengerti. Atau jika tidak, mungkin anda sudah cukup ikhlas menerima orang tersebut apa adanya.

Mungkin.

8 November

Hari ini adalah peringatan ulang tahun sahabat saya, Hafizh, yang telah tiada. Biasanya saya suka menulis serangkaian kata-kata di wall facebooknya tapi entahlah hari ini saya enggan melakukannya.

Ulang tahun? Apanya yang diulang, dia telah pergi.

Kenangan? Takkan berganti.

Memperingati? Itu pasti.

Karena dia pernah datang ke dunia ini.

Saya masih ingat ketika hujan saya pergi ke rumahnya hanya sekedar membawa cd game untuk kami mainkan bersama. Kami masih SMP pada saat itu. Saya juga masih ingat ketika kami duduk bersama bercerita tentang komik naruto dan berandai-andai tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Atau mungkin tantang hal-hal yang tidak pernah kami ucapkan karena kami saling mengerti tanpa harus berucap.

Ah sudahlah, mungkin lebih baik memanjatkan doa daripada sekedar bercerita.

I Remember #MOCCA

Kemarin, dua hari yang lalu tepatnya, pertama kalinya gue liat konser mocca, kesempatan langka yang gak bakal gue sia-siain ketika pertama kali denger ini band bakal perform. Gimana nggak, acaranya ada di Surabaya dan di kampus gue, jelas harus dateng. Konser ini merupakan puncak dari serangkaian acara Information System Expo (ISE) yang diselenggarain oleh Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HMSI) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Acara dimulai dari jam 6 sore tapi gue dateng (sendirian) jam setengah 8 waktu itu. Eh bentar melas banget sih gue, sendirian? hehe kagak juga sebenernya disana ketemu temen juga kok, tapi cowok (sama ajaaa). Tambah temen gue datengnya telat, katanya sih ada acara trus dia nawarin ada temennya yang juga ikut nonton, tapi cowok, yang bener aja, ada dua orang cowok, nggak saling kenal sebelumnya, trus nonton mocca bareng, gimana coba kalo habis nonton jadian? 😀 gawat HAHAHA.

Ok lanjut setibanya disana gue langsung menuju tempat penukaran tiket buat nukarin tiket yang udah gue beli 2 minggu sebelumnya. Yah presale. Gue emang niat banget buat nonton takut kehabisan dan lebih murah, hehe. Waktu dateng masih lumayan sepi tapi udah kedengeran suara musik yang di mix oleh DJ Raka yang rame menggema di gedung robotika itu. Sebenernya asik buat joget cuman gue sendirian disitu jadi agak mati gaya. Acara dilanjutkan dengan parade band-band dari anak-anak SI sendiri dan juga band-band lokal surabaya yang keren-keren juga yang sampai akhirnya tepat jam 10, mocca belom juga tampil. Halah. Malah yang dateng anak-anak kecil yang naik keatas panggung, mau ngapain coba pikir gue, eh ternyata anak-anak jalanan yang diundang kesitu buat tampil karena emang tema dari acaranya charity. Tapi keren lho jangan salah.

Habis mereka manggung, kali ini giliran mocca yang tampil. Satu per satu personil mulai masuk ke atas panggung dan musik pun mulai menggema. Here they go, I Love You Anyway, jadi lagu pembuka konser malam itu, eits tunggu, where is Arina..? Kak Arina masuk belakangan sambil mulai nyanyi. Kyaaaaa, teriak penonton histeris liat arina, termasuk gue. HAHAHA :D. Emang Kak Arina cantik banget malem itu, terlebih karena liat dari deket kali ya. Gak cuman orangnya suaranya pun juga manis, ramah deh pokoknya. Hehe. Setelah itu dilanjut dengan membawakan lagu On The Night Like This, trus My Only One, Let Me Go, Secret Admirer, Me And My Boyfriend, Lucky Me, dst, karena saking terbawanya suasana sampai lupa lagu dan urutannya, hehe. Sampai ditengah acara ada acara bagi-bagi CD mocca. Waahhh, dilempar langsung sama Kak Arina, siapa coba yang gak mau? Tapi sayangnya lemparan Kak Arina gak seberapa jauh gak sampai ke tengah lautan manusia tempat gue berdiri. Apes.

Lanjut deh ke lagu selanjutnya request dari penonton yaitu I Remember, salah satu lagu favorit juga asik banget buat dinyanyiin bareng-bareng jadi waktu itu gue ikutan nyanyi juga, kapan lagi coba nyanyi bareng sama Kak Arina. Hehe :D. Lanjut ke lagu request kedua yaitu Butterflies In My Tummy, bagus lagunya cuman waktu itu gue pengen banget dengerin lagu favorit gue, Listen To Me, secara langsung. Tapi gue nunggu sampai akhir konser nggak dinyanyiin. Lagi-lagi Apes.

Lagu selanjutnya gue lupa judulnya, hehe Kak Arina nyanyi bareng suaminya, Cris Miller. Kalo kata temen gue, “coba nyanyi barengnya pas lagu Let Me Go pasti lebih bagus”. “Iya bagus tapi ntar habis konser suaminya minta cerai”, jawab gue. Hehe tapi dalam hati setengah setuju. HAHAHA 😀 mulai gak bener neh. Dan berikutnya mereka bawain lagu baru mereka yang keren juga, Imaginary Girl, pertama kalinya buat gue dengerin itu lagu. Premiere (film kale premiere). Dan karena hari itu juga bertepatan dengan ulang tahun mocca yang ke 14 tahun, ada acara tiup lilin juga yang kuenya dibawain sama anak-anak jalanan yang tadi manggung. Habis itu mocca manggung bareng mereka, bawain lagu nasional Tanah Airku. Menyentuh beneran. Dan menurutku ini pas banget buat Kak Arina yang habis konser ini pergi ke Amerika dan tinggal bareng suaminya yang emang orang sana. Eits sebelum manggung ada kejadian lucu yang bikin ketawa semua orang yang nonton disitu. Kan sebelum manggung persiapan dulu tuh. Kak Arina di tengah panggung sama vokalisnya anak-anak jalanan tadi, sebut saja A, trus temennya si A, sang gitaris, dengan setengah lari ke arah si A trus maen senggol ala anak kecil yang godain temennya sambil bilang cie cie trus balik lagi ke posisinya. HAHAHA 😀 gokil.

Dipenghujung acara, mocca bagi-bagi hadiah kaos yang bertuliskan mocca dibagian dada buat penonton yang ulang tahunnya hari itu juga, tanggal 1 November. Jiah ultah gue bulan kemarin, beberapa hari yang lalu sih tapi yah lagi lagi. Apes. Mana yang naik panggung diajakin dansa juga sama Kak Arina T_T huhu. Tapi ya sudahlah. Overall, gue menikmati banget konsernya, keren banget. Makasih buat mocca yang udah mau dateng dan panitia ISE yang udah menyelengarakan acara yang epic ini. Oh iya acaranya lama banget sampai jam setengah 1 pagi. Capek tapi puas deh pokoknya.

I remember #mocca 😀